Hal Penting Tentang HIV (AIDS): Gejala, Penyebab & Cara Mengobati

BINAHUSSADA - Selama ini, kamu mungkin kerap kali menemukan penggunaan singkatan HIV (Human Immunodeficiency Virus) selalu berdampingan dengan AIDS (acquired immune deficiency syndrome).
Keduanya memang berkaitan, tetapi ada perbedaan HIV dan AIDS yang sangat mendasar. Perbedaan ini yang kemudian membuat perawatan untuk keduanya berbeda.
Lantas, apa saja perbedaan HIV dan AIDS? Cari tahu jawabannya melalui uraian berikut!
Perbedaan HIV dan AIDS
HIV adalah sebutan untuk virus yang termasuk dalam kelompok retrovirus.
HIV menyerang sel darah putih di dalam sistem kekebalan tubuh manusia. Sel-sel ini akan tetap terinfeksi selama sisa hidup mereka.
Saat seseorang yang terinfeksi HIV tak mendapat pengobatan dan perawatan yang tepat, maka ia akan mengembangkan kondisi yang kemudian disebut AIDS.
AIDS atau kadang-kadang disebut sebagai 'HIV tahap akhir' atau 'penyakit HIV lanjut' adalah istilah umum untuk penyakit yang terjadi karena infeksi HIV yang tidak diobati selama beberapa tahun. Kondisi ini telah menyebabkan sistem imun tubuh mengalami kerusakan parah dan tak bisa lagi melawan infeksi yang menyerang tubuh.
Penyakit dan gejala akan bervariasi untuk setiap orang yang mengidap AIDS, tetapi sangat mungkin mereka mengalami infeksi dan kanker yang bisa mengancam jiwa.
Setiap orang yang mengidap AIDS pasti mengidap HIV, tetapi tidak setiap orang yang mengidap HIV akan mengembangkan AIDS. Pasalnya, kini ada banyak pilihan pengobatan yang tersedia untuk orang yang hidup dengan HIV, sehingga kini jauh lebih sedikit orang yang mengembangkan AIDS.
Baca juga: 11 Kegunaan Buah Dewandaru: Obati Kanker, Diabetes, Pelangsing hingga Atasi Masalah Kulit
Seringkali, mereka yang mengembangkan AIDS adalah orang-orang yang belum pernah melakukan tes HIV dan tidak pernah menggunakan pengobatan. Begitu pengobatan HIV dimulai, kematian akibat AIDS bisa dicegah.
Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk mengetahui apakah kamu mengidap HIV adalah dengan menjalani tes. Sayangnya, tidak ada tes untuk AIDS, karena ini adalah kumpulan dari infeksi dan penyakit yang terjadi karena infeksi HIV yang tidak diobati. Sering kali, orang dapat mengalaminya sebelum HIV ditemukan sebagai penyebabnya. Inilah mengapa AIDS terkadang sulit didiagnosis.
Jika kamu ingin mengetahui status kesehatan, terutama apakah kamu mengidap HIV atau tidak, kamu bisa melakukan tes HIV di beberapa rumah sakit yang menyediakan layanan tersebut.
Fakta Lain Tentang HIV dan AIDS

1. HIV tak selalu berkembang ke tahap ke-3
HIV adalah virus, dan AIDS adalah kondisi yang dapat ditimbulkan oleh virus. Infeksi HIV tidak selalu berlanjut ke tahap 3.
Faktanya, banyak orang dengan HIV hidup selama bertahun-tahun tanpa mengembangkan AIDS.
Berkat kemajuan pengobatan, orang yang hidup dengan HIV dapat berharap untuk hidup dalam rentang hidup yang hampir normal. Karena hingga kini belum ada ada obatnya, infeksi HIV tidak pernah sembuh, meskipun seseorang tidak pernah mengembangkan AIDS.
2. HIV dapat menular
Karena HIV adalah virus, ia dapat ditularkan di antara orang-orang seperti virus lainnya.
Di sisi lain, AIDS adalah kondisi yang didapat seseorang hanya setelah mereka tertular HIV.
Baca juga: Cara Rumahan Deteksi Dini Kanker Serviks & Tips Pencegahannya
Virus ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui pertukaran cairan tubuh. Paling umum, HIV ditularkan melalui hubungan 5ek5 tanpa kondiyom atau penggunaan jarum suntik secara bersamaan. Seorang ibu juga dapat menularkan virus ke anaknya selama kehamilan.
Faktor Risiko HIV dan AIDS
Kelompok orang yang lebih berisiko terinfeksi, antara lain:
- Orang yang melakukan hubungan intim tanpa kondiyom, baik hubungan 5e5ama jenis maupun hetero5ek5ual
- Orang yang sering membuat tato atau melakukan tindik
- Orang yang terkena infeksi penyakit seksual lain
- Pengguna narkotika suntik
- Orang yang berhubungan intim dengan pengguna narkotika suntik

Di Indonesia, penyebaran dan penularan HIV paling banyak disebabkan melalui hubungan bdn yang tidak aman dan bergantian, dan menggunakan jarum suntik yang tidak steril saat memakai narkoba.
Seseorang yang terinfeksi HIV dapat menularkannya kepada orang lain, bahkan sejak beberapa minggu sejak tertular.
Gejala HIV dan AIDS
1. Tahap pertama
1. Tahap pertama
- Pengidap akan mengalami nyeri mirip, seperti flu, beberapa minggu setelah terinfeksi, selama satu hingga dua bulan
- Dapat tidak menimbulkan gejala apapun selama beberapa tahun
- Dapat timbul demam, nyeri tenggorokan, ruam, pembengkakan kelenjar getah bening, diare, kelelahan, nyeri otot, dan sendi
- Umumnya, tidak menimbulkan gejala lebih lanjut selama bertahun-tahun
- Virus terus menyebar dan merusak sistem kekebalan tubuh
- Penularan infeksi sudah bisa dilakukan pengidap kepada orang lain
- Berlangsung hingga 10 tahun atau lebih
- Daya tahan pengidap rentan, sehingga mudah sakit, dan akan berlanjut menjadi AIDS
- Demam terus-menerus lebih dari sepuluh hari
- Merasa lelah setiap saat
- Sulit bernapas
- Diare yang berat dan dalam jangka waktu yang lama
- Terjadi infeksi jamur pada tenggorokan, mulut, dan ms v
- Timbul bintik ungu pada kulit yang tidak akan hilang
- Hilang nafsu makan, sehingga berat badan turun drastis

Tes HIV harus dilakukan untuk memastikan seseorang mengidap HIV atau tidak.
Baca juga: Rahasia Tubuh Sehat Bugar Tidak Mudah Sakit dengan Ramuan ini, Terbukti Ampuh!
Pemeriksaan yang dilakukan sebagai langkah diagnosis adalah dengan mengambil sampel darah atau urine pengidap untuk diteliti di laboratorium.
Jenis pemeriksaan untuk mendeteksi HIV, antara lain:
- Tes antibodi - Tes ini bertujuan mendeteksi antibodi yang dihasilkan tubuh untuk melawan infeksi HIV. Meski akurat, perlu waktu 3-12 minggu agar jumlah antibodi dalam tubuh cukup tinggi untuk terdeteksi saat pemeriksaan
- Tes antigen - Tes antigen bertujuan mendeteksi protein yang menjadi bagian dari virus HIV, yaitu p24. Tes antigen tersebut dapat dilakukan 2-6 minggu setelah pengidap yang dicurigai terinfeksi HIV
Jika skrining menunjukkan pengidap terinfeksi HIV (HIV positif), pengidap perlu menjalani tes selanjutnya.
Hal tersebut untuk memastikan hasil skrining, membantu dokter mengetahui tahap infeksi yang diderita, serta menentukan metode pengobatan yang tepat.
Tes tersebut dilakukan dengan mengambil sampel darah pengidap untuk selanjutnya diteliti di laboratorium. Tes tersebut, antara lain:
- Hitung sel CD4 - CD4 adalah bagian dari sel darah putih yang dihancurkan oleh HIV. Jumlah CD4 normal berada dalam rentang 500–1400 sel per milimeter kubik darah. AIDS terjadi jika hasil hitung sel CD4 di bawah 200 sel per milimeter kubik darah
- Pemeriksaan viral load (HIV RNA) - Bertujuan untuk menghitung RNA, bagian dari virus HIV yang berfungsi menggandakan diri. Jumlah RNA yang lebih dari 100.000 kopi per mililiter darah, menandakan infeksi HIV baru saja terjadi atau tidak tertangani. Sedangkan jumlah RNA yang berada di bawah 10.000 kopi per mililiter darah, menunjukan perkembangan virus yang tidak terlalu cepat, tetapi kerusakan pada sistem kekebalan tubuh tetap terjadi
- Tes resitensi (kekebalan) - Dilakukan untuk menentukan obat anti HIV jenis apa yang tepat bagi pengidap. Hal ini dikarenakan beberapa pengidap memiliki resistensi terhadap obat tertentu

Meskipun sampai saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan HIV, tetapi ada jenis obat yang dapat memperlambat perkembangan virus. Jenis obat ini disebut antiretroviral (ARV).
ARV bekerja dengan menghilangkan unsur yang dibutuhkan virus HIV untuk menggandakan diri dan mencegah virus HIV menghancurkan sel CD4.
Jenis obat ARV memiliki berbagai varian, antara lain Etravirine, Efavirenz, Lamivudin, Zidovudin, dan juga Nevirapine.
Selama mengonsumsi obat antiretroviral, dokter akan memonitor jumlah virus dan sel CD4 untuk menilai respons pengidap terhadap pengobatan.
Hitung sel CD4 akan dilakukan tiap 3–6 bulan. Sedangkan pemeriksaan HIV RNA, dilakukan sejak awal pengobatan, lalu dilanjutkan tiap 3–4 bulan selama masa pengobatan.
Agar perkembangan virus dapat dikendalikan, pengidap harus segera mengonsumsi ARV begitu didiagnosis mengidap HIV. Karena risiko pengidap HIV untuk terserang AIDS akan semakin besar jika pengobatan ditunda. Dan virus akan semakin merusak sistem kekebalan tubuh.
Jenis obat ARV memiliki berbagai varian, antara lain Etravirine, Efavirenz, Lamivudin, Zidovudin, dan juga Nevirapine.
Selama mengonsumsi obat antiretroviral, dokter akan memonitor jumlah virus dan sel CD4 untuk menilai respons pengidap terhadap pengobatan.
Hitung sel CD4 akan dilakukan tiap 3–6 bulan. Sedangkan pemeriksaan HIV RNA, dilakukan sejak awal pengobatan, lalu dilanjutkan tiap 3–4 bulan selama masa pengobatan.
Agar perkembangan virus dapat dikendalikan, pengidap harus segera mengonsumsi ARV begitu didiagnosis mengidap HIV. Karena risiko pengidap HIV untuk terserang AIDS akan semakin besar jika pengobatan ditunda. Dan virus akan semakin merusak sistem kekebalan tubuh.
Selain itu, penting bagi pengidap untuk mengonsumsi ARV sesuai petunjuk dokter. Konsumsi obat yang terlewat hanya akan membuat virus HIV berkembang lebih cepat dan memperburuk kondisi pengidap.
Baca juga: Yuk, Cek Kesehatan dengan Cara Melihat Kondisi Kakimu!
Baca juga: Yuk, Cek Kesehatan dengan Cara Melihat Kondisi Kakimu!
Segera minum obat jika jadwal konsumsi obat pengidap dan tetap ikuti jadwal berikutnya. Namun jika dosis yang terlewat cukup banyak, segera bicarakan dengan dokter.
Kondisi pengidap juga memengaruhi resep atau dosis yang sesuai. Dokter juga dapat menggantinya sesuai dengan kondisi pengidap. Selain itu, pengidap juga boleh untuk mengonsumsi lebih dari 1 obat ARV dalam sehari.
Pencegahan HIV dan AIDS
Terdapat berbagai upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah penularan HIV dan AIDS, antara lain:
- Gunakan kondiyom yang baru setiap berhubungan bdn
- Hindari berhubungan bdn dengan lebih dari satu pa5angan
- Bersikap jujur kepada pasangan jika mengidap positif HIV, agar pasangan juga menjalani tes HIV
- Diskusikan dengan dokter jika didiagnosis positif HIV saat hamil, mengenai penanganan selanjutnya, dan perencanaan persalinan, untuk mencegah penularan dari ibu ke janin.
- Bersunat untuk mengurangi risiko infeksi HIV
Kapan Harus ke Dokter?
Bila dirimu atau anggota keluarga ada yang mengalami gejala-gejala di atas, segeralah konsultasi dokter untuk mendapatkan saran dan penanganan yang tepat.
Sumber:
Halodoc.Com - HIV dan AIDS: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati
Hal Penting Tentang HIV (AIDS): Gejala, Penyebab & Cara Mengobati
Reviewed by Tabib Wira
on
01:17
Rating:
